2017 Ekonomi Inflasi Maluku 2016 Relatif Rendah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 09 January 2017 01:47

AMBON Tribun-Maluku.com- Provinsi Maluku mencatatkan inflasi bulanan pada Desember 2016 sebesar 0,63 persen, relatif rendah

dibandingkan rata-rata historis. Secara keseluruhan tahun, inflasi Maluku pada 2016 mencapai 3,25 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan inflasi tahun sebelumnya yaitu 6,15 persen maupun rata-rata historis lima tahun terakhir sebesar 6,34 persen, meskipun masih sedikit di atas inflasi nasional yang sebeesar 3,02 persen.Wuryanto (kiri) Kepala KPW BI Maluku

 

Inflasi Maluku dapat terjaga dibawah sasaran roadmap pengendalian inflasi Maluku tahun 2016 sebesar 5,5 ± 1 persen (yoy) maupun sasaran inflasi nasional tahun 2016 yaitu 4,0 ± 1 persen. Demikian penjelasan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Wuryanto, pada acara konferensi pers Pencapaian Inflasi Maluku tahun 2016 serta Sosialisasi dan Edukasi uang rupiah emisi 2016, bertempat di Kantor BI Maluku, Jumat (6/1/2017).

bawang merah, labu siam dan tarif pulsa ponsel. Sementara di Kota Tual, penyumbang inflasi terbesarnya adalah ikan cakalang, angkutan udara, ikan layang, ikan kembung dan telur ayam ras.

Menurut Wuryanto, inflasi Maluku pada Desember 2016 merupakan agregat dari inflasi di Kota Ambon sebesar 0,53 perse dan Kota Tual sebesar 1,70 persen. Di Kota Ambon, inflasi pada Desember 2016 terutama disumbang oleh komoditas angkutan udara, kangkung, sementara di Kota Tual penyumbang inflasi terbesar adalah ikan cakalang, ikan kembung, ikan ekor kunig, rokok kretek filter dan angkutan udara.

Sepanjang tahun 2016, inflasi Kota Ambon mencapai 3,28 persen dan Kota Tual sebesar 2,97 persen. Lima komoditas dengan andil inflasi terbesar di Kota Ambon pada 2016 adalah lemon, akademi/perguruan tinggi, angkutan udara serta cabai merah dan bawang merah. Apabila dilihat trennya, maka sejak tahun 2013 inflasi Maluku terus menurun secara konsisten, yaitu dari 8,85 persen tahun 2013 turun menjadi 7,19 persen tahun 2014, turun lagi menjadi 6,15 persen tahun 2015 dan 3,25 persen pada 2016.

Semakin terjaganya laju inflasi Maluku pada tingkat yang rendah dan stabil ini tidak lepas dari berbagai perbaikan struktural ekonomi Maluku, yaitu peningkatan produksi dan efisiensi distribusi, yang terus dilakukan melalui sinergi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia.

Dari sisi pasokan bahan pangan, Maluku secara bertahap terus mengurangi ketergantungan dari daerah lain. Upaya yang telah dilakukan antara lain perluasan areal tanam padi, bawang merah, cabai dan sayur-sayuran, serta penyaluran berbagai bantuan sarana prasarana produksi pertanian dan perikanan.

Secara khusus, Bank Indonesia membina tiga Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) hortikultura di Pulau Ambon yang turut berkontribusi terhadap kontinuitas pasokan komoditas sayuran dan cabai. Dari sisi distribusi, peran BULOG serta Dinas Perindustrian & Perdagangan semakin kuat untuk menjaga kecukupan stok dan keterjangkauan harga. Dari sisi komunikasi, Pemerintah dan Bank Indonesia mendorong  transparansi pembentukan harga melalui implementasi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) online yang bisa diakses masyarakat kapanpun dan dimanapun.

Tekanan inflasi nasional maupun  Maluku pada 2017 diperkirakan lebih besar dibandingkan tahun lalu. Secara nasional, hal ini antara lain dipengaruhi oleh mulai meningkatnya harga minyak dunia dan komsumsi masyarakat. Disamping itu, kebijakan harga pemerintah (administered prices) kenaikan tarif listrik, BBM, cukai rokok, dan tarif pengurusan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) maupun Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) juga berpotensi mendorong inflasi.

Sementara itu resiko inflasi pada awal tahun 2017 di Maluku terutama  berasal dari komponen volatile foods yaitu berkurangnya pasokan ikan segar dan sayuran akibat kondisi cuaca, serta  komponen administered prices seperti kenaikan tarif parkir di Kota Ambon. Ke depan, upaya pengendalian inflasi oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) perlu terus ditingkatkan, agar dapat mencapai sasaran inflasi nasional tahun 2017 sebesar 4,0 ± 1 persen.

Perbaikan struktural akan tetap menjadi fokus program kegiatan TPID. Untuk menjamin kontinuitas pasokan pangan (volatile foods) ditengah resiko konsisi cuaca yang tidak menentu, diperlukan penguatan kelembagaan baik di sisi produsen mupun distribusi.

Sebagai contoh adalah implementasi kerjasama antara petani dan pedagang komoditas hortikultura, kerjasama antara nelayan dengan pengusaha cold storage dan pedagang ikan di pasar, serta kerjasama perdaganagn antar daerah, baik antar kota/kabupaten di Maluku maupun antar Maluku dengan daerah pemasok seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Ditambahkan, untuk meredam dampak inflasi pada komponen administired prices seperti tarif listrik dan BBM, TPID perlu terus mendukung upaya PLN dalam menambah rasio elektrifikasi maupun upaya Pertamina dalam memperluas jaringan distribusi BBM, sehingga menjamin meratanya ketersediaan maupun harga listrik dan BBM hingga ke daerah-daerah terpencil dan terluar di Maluku.

Di samping itu koordinasi dan sinergi antara TPID Provinsi Maluku dengan TPID Kota/Kabupaten perlu terus ditingkatkan, agar upaya pengendalian inflasi dapat berjalan lebih efektif.

Sumber : Tribun Maluku

2017 Ekonomi Inflasi Maluku 2016 Relatif Rendah
 

Artikel Terkait

Link Website

BPMD Facebook

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday5
mod_vvisit_counterYesterday429
mod_vvisit_counterThis week2270
mod_vvisit_counterThis month10150
mod_vvisit_counterAll867087