Perspektif Pengembangan Wilayah Kabupaten Buru PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 23 July 2012 01:24
Multithumb found errors on this page:

There was a problem loading image /home/sloki/user/t10019/sites/bkpmd-maluku.com/www/images/stories/kabupaten/perspektif.jpg

Dalam perspektif perencanaan wilayah, Kabupaten Buru dibagi dalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan yaitu :

perspektif.jpg



I.    WILAYAH PENGEMBANGAN I


Wilayah Pengembangan I meliputi Kecamatan Namlea dan Kecamatan Waplau  dengan rencana pengembangan pada sektor perdagangan dan jasa yang didukung oleh sektor pertanian. Namlea pada struktur Tata Ruang Provinsi Maluku telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan ekspor impor dalam mendukung Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan sebagai pintu keluar utama untuk Kabupaten Buru dengan akses ke Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Buru Selatan.
Pada Wilayah Pengembangan I, kawasan pertanian lahan kering berada pada Desa Waeperang. Jarak tempuh Desa Waeperang dari Ibukota Kabupaten    ± 20 Km, dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan darat. Pada kawasan tersebut tersedia lahan untuk pertanian lahan kering seluas 150 Hektar, didukung jalan usaha tani sepanjang 3 Km dan sarana irigasi lahan kering.

Kawasan pertanian dalam pengembangannya telah diintegrasikan dengan peternakan sapi seluas 5.700 Ha dengan daya tampung sebanyak 20.520 ekor ternak. Jumlah populasi pada tahun 2009 sebanyak 9.156 ekor, didukung dengan kandang sapi kapasitas 100 ekor sebanyak 4 unit, rumah produksi pupuk organik masing-masing sebanyak 5 Unit, dan 1 unit Puskeswan melibatkan petani penggarap 220 KK. Selain itu telah dikembangkan Kebun hijauan makanan ternak seluas 35 hektar

Selain itu terdapat sentra pengembangan perikanan tangkap yang berlokasi pada Desa Waelihang/Waprea. Komoditi perikanan tangkap ini didukung dengan Cold Storage dengan kapasitas 50 ton, armada tangkap sebanyak 521 unit, Pole and Line 1 unit dengan kapasitas produksi sebesar 1.458 ton/tahun. Pada WP I ini juga terdapat pengembangan rumput laut di dalam Teluk Kayeli dengan luas lahan potensial 50 hektar, lahan tergarap 25 hektar, kapasitas produksi 32 ton rumput laut kering.


II.    WILAYAH PENGEMBANGAN II


Pada Wilayah Pengembangan II, rencana pengembangan pada sektor perikanan dan perkebunan dengan tiga kawasan pengembangan yaitu Teluk Bara, Air Buaya/Wamlana dan Dataran Rana. Teluk Bara merupakan jalur pelayaran internasional dan pada tatralok dan RTRW Provinsi Maluku telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang memiliki akses ke Kabupaten Sula, Kabupaten Buru Selatan dan merupakan titik singgah Trans Maluku yang sementara ini sedang dibangun Pelabuhan dan Dermaga Ferry. Wilayah Pengembangan II dihubungkan dengan Ibukota Kabupaten melalui ruas jalan nasional dengan jarak tempuh ± 98 km, sedangkan jarak tempuh Teluk Bara dengan Ibukota Kecamatan Air Buaya ±17 km.
Cluster pengembangan perikanan berada pada kawasan Teluk Bara dan Wamlana didukung armada tangkap sebanyak 521 Unit, RTP sebanyak 547 KK dengan Volume produksi 1.458 Ton/tahun serta pabrik es pada desa Wamlana yang merupakan cluster komoditi tuna loin. Di wilayah Teluk Bara terdapat lahan potensial untuk pengembangan rumput laut ±20 hektar.  

Pada wilayah ini terdapat potensi pengembangan peternakan pembibitan sapi potong dengan sistem Ranch di dusun Walmatina Kecamatan Air Buaya. Pada lokasi ini luas lahan potensi lahan penggembalaan seluas 36.185 hektar dan dapat menampung 3.117 ekor ternak.

Selain sektor perikanan terdapat sentra pengembangan pertanian pada kawasan Karamat yang merupakan kawasan transmigrasi pola pertanian dengan jarak tempuh ± 4 km dari Ibukota Kecamatan Air Buaya seluas 200 hektar.
Kawasan ini telah diintegrasikan dengan pengembangan peternakan pada desa Wamlana, dengan ketersediaan lahan seluas 36.185,20 Ha, daya tampung ternak 130.266,72 ST, dengan populasi saat ini sebanyak 2.730,13 ST dan didukung oleh satu unit Puskeswan serta irigasi lahan kering.


Potensi perkebunan tersebar pada seluruh wilayah Air Buaya dengan komoditi Kakao dan Kelapa. Untuk Kakao terdapat lahan perkebunan seluas 2.460,60 hektar dengan produksi sebanyak 2.215 ton biji kering dengan nilai jual Rp. 26,58 milyar

III.    WILAYAH PENGEMBANGAN III


Wilayah Pengembangan III (Dataran Waeapo dan sekitarnya) merupakan rencana pengembangan sektor pertanian, dengan Waenetat sebagai pusat pengembangan. Dalam Rencana Tata Ruang Kabupaten Buru ditetapkan Waenetat sebagai Pusat Kegiatan Sub Lokal (PKSL) yang berfungsi sebagai penyangga Wilayah Pengembangan I (Namlea) sekaligus berfungsi sebagai salah satu moda transportasi darat yang menghubungkan Wilayah Pengembangan IV (Kayeli) dengan Wilayah Pengembangan I (Namlea) melalui ruas jalan Sp. Mako/Grandeng-Kayeli dengan jarak tempuh 33,5 km sedangkan Sp. Mako/Grandeng-Ilath memiliki jarak tempuh 98,35 km.

Kawasan Waenetat memiliki jarak tempuh  ± 39 km dihubungkan melalui ruas jalan nasional dengan Ibukota Kabupaten. Kawasan ini merupakan cluster pertanian padi Sawah didukung dengan peternakan dan perkebunan dan telah dicanangkan sebagai pusat lumbung pangan (padi sawah) yang didukung dengan jaringan irigasi teknis dan bendungan Waegeren serta prasarana dan sarana pertanian lainnya. Lahan potensial untuk  pengembangan padi sawah seluas 10.000 hektar, lahan yang tergarap 5.483,25 hektar dengan kapasitas produksi sebesar 22.920 ton/tahun.
Pada Wilayah Waenetat ini selain telah tersedia jaringan irigasi dan jaringan jalan yang menghubungkannya dengan Kota Kabupaten, juga didukung oleh adanya fasilitas telekomunikasi, penerangan dan lembaga keuangan perbankan, serta terdapat gudang Dolog, Koperasi dan dengan adanya Kelompok Tani Nelayan Andalan yang diperkuat dengan Surat Keputusan Bupati.
Selain itu wilayah ini juga memiliki potensi peternakan di Desa Parbulu dusun Waeturi dengan luas lahan potensi 12.620 hektar, dapat menampung 24.471 ekor ternak.

IV.    WILAYAH PENGEMBANGAN IV


Dalam struktur Tata Ruang Kabupaten Buru, dengan rencana pengembangan pada sektor perkebunan dan perikanan.
Ilath sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) sekaligus sebagai kolektor ekonomi yang menghubungkan Kabupaten Buru dengan Kabupaten Buru Selatan sedangkan Kayeli berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Sub Lokal (PKSL). Ilath selain berfungsi sebagai moda angkutan juga merupakan Pusat Kegiatan Lokal yang berfungsi sebagai kolektor ekonomi dengan akses keluar menuju Namlea, Ambon dan Kabupaten Buru Selatan.
Wilayah Pengembangan ini memiliki leading sektor perikanan dan perkebunan. Kawasan Kayeli telah dikembangkan sebagai cluster perikanan didukung dengan cold storage kapasitas 100 ton, dilengkapi dengan ice making, pembangunan pangkalan pendaratan ikan (PPI), Armada penangkapan sebanyak 622 unit, melibatkan 689 RTP dengan kapasitas produksi 1.673 Ton. Disamping itu terdapat potensi budidaya air payau seluas 400 hektar dan budidaya rumput laut seluas 200 hektar.
Fasilitas perikanan tersebut telah didukung oleh prasarana jalan yang menghubungkan wilayah tersebut dengan Ruas jalan Marloso – Mako. Jarak Kayeli yang cukup dekat dengan Ibukota Kabupaten memungkinkan untuk dikembangkan jalur penyeberangan dalam teluk sehingga kedepan direncanakan untuk pembangunan Dermaga dan Pelabuhan Fery di Kayeli.
Sedangkan pada kawasan Ilath merupakan cluster pengembangan perkebunan dengan komoditi kelapa, cengkeh dan pala. Posisi Ilath merupakan posisi strategis yang menghubungkan Kabupaten Buru dan Buru Selatan melalui jalur pelayaran fery, sehingga komoditi perkebunan dimaksud dapat terdistribusi dengan baik.

Last Updated on Tuesday, 17 June 2014 01:27
 

Link Website

BPMD Facebook

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday480
mod_vvisit_counterYesterday857
mod_vvisit_counterThis week2949
mod_vvisit_counterThis month16725
mod_vvisit_counterAll850374