Keanekaragaman Fauna Kabupaten Buru Selatan PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 30 April 2012 02:50

A. Paus

Provinsi Maluku yang luas wilayahnya didominasi oleh lautan, dengan laut dalam yang sangat menonjol merupakan rute migrasi yang sangat penting bagi paus dari samudera Pasifik di bagian utara ke samudera Indonesia di bagian selatan dan/atau sebaliknya. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tentang migrasi paus,

diantaranya Salm dan Halim (1984) dalam Monk et.al. (1997), serta fakta survei lapangan mengindikasikan wilayah perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru setidaknya dilalui oleh 6 - 7 jenis paus yaitu : Megaptera novaeangliae (Humpback whale), Balaenoplera borealis (Sei whale), Balaenoplera musculatus (Blue whale), Balaenoplera physalis (Fin whale), Physeter catodon (Sperm whale), Physeter sp., dan Orcinus orca (Killer whale).

Kehadiran dari jenis paus biru, sperm whale dan paus pembunuh di wilayah pesisir dan laut Kabupaten Buru Selatan merupakan hal yang khusus dibanding 4 jenis paus yang lain. Diduga rute migrasi paus biru (Balaenoptera musculus) dari samudera Pasifik menuju samudera Indonesia melintasi perairan antara Pulau Halmahera dan Papua, kemudian memasuki laut Maluku maupun laut Seram dan melalui perairan antara pulau Buru dan Pulau Seram Bagian Barat, kemudian memasuki laut Banda menuju perairan Nusa Tenggara Timur, dan masuk ke samudera Indonesia melalui perairan selat Timor. Pada bagian lain, rute migrasi jenis paus Physeter sp.

dari samudera Pasifik menuju samudera Indonesia melintasi perairan Laut Maluku antara Pulau Halmahera dan Suilawesi, antara P. Obi dan kepulaun Sula terus ke ujung barat P. Buru, kemudian memasuki laut Banda menuju perairan Nusa Tenggara Timur dan masuk ke samudera Indonesia melalui perairan selat Timor.

Selain itu, paus pembunuh (Orcinus orca) hadir secara temporal di perairan pesisir dan laut Pulau Buru dan Pulau Ambalau (Kabupaten Buru) pada musim tertentu. Kehadiran paus pembunuh ini bertepatan dengan kondisi suhu perairan agak dinging pasca upwelling di laut Banda dan juga bersamaan dengan musim dimana terjadi peningkatan populasi sotong (cumi-cumi), serta ikan pelagis kecil di perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru.

Fakta ini menunjukan kondisi suhu perairan dan ketersediaan sumber makanan menjadi faktor utama kehadiran paus pembunuh di wilayah perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru. Migrasi paus tidak hanya pada perairan pesisir dan laut, tetapi seringkali memasuki wilayah perairan teluk yang agak dalam sepanjang Pulau Buru, terutama jenis Physeter catodon dan Physeter sp. (Sperm whale), shingga menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat yang bermukim di bagian teluk-teluk tersebut. Melalui data dan informasi, serta fakta lapangan yang telah diuraikan maka dapat dikatakan bahwa posisi wilayah pesisir dan laut Kabupaten Buru sangat potensial dan strategis bagi kehadiran paus.

Semua jenis paus yang hadir di wilayah perairan Kabupaten Buru ini termasuk hewan laut yang dilindungi, baik secara Nasional maupun Internasional. Secara Nasional, jenis-jenis paus tersebut merupakan mamalia laut yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 (Noerdjito dan Maryanto, 2001). Oleh karena itu, kehadirannya pada wilayah perairan Kabupaten Buru Selatan sebagai ruang migrasi maupun untuk kepentingan berbagai aktivitas hidup perlu ditata untuk selanjutnya dikelola secara baik. b.

B. Lumba-Lumba

Lumba-lumba yang termasuk dalam kelompok mamalia laut ditemukan di hampir seluruh wilayah perairan pesisir dan laut Pulau Buru Selatan dan Pulau Ambalau. Setidaknya terdapat lima jenis lumba-lumba yang hadir di perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru ini yaitu Globicephala macrorhynchus, Pseudorca crassidens, Delphinus delphis dan D. capensis (lumba-lumba biasa), serta Tursiops truncatus (lumba-lumba hidung botol). Jenis lumba-lumba yang umum ditemukan di wilayah perairan pesisir dan laut kabupaten ini adalah lumba-lumba biasa dan lumba-lumba hidung botol. Kedua jeni lumba-lumba ini bermigrasi hingga ke perairan dangkal, dan memasuki perairan teluk sepanjang Pulau Buru.

Sama halnya dengan paus, ternyata semua jenis lumba-lumba yang berada di wilayah perairan Kabupaten Buru merupakan mamalia laut yang dilindungi. Dengan demikian, kebutuhan ruang bagi eksistensi mamalia laut yang dilindungi ini menjadi penting serta perlu mendapat perhatian dalam penyusunan tata ruang dan rencana pengelolaan wilayah perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru Selatan.

C. Dugong (Duyung)

Salah satu jenis mamalia laut yang cukup penting dan umumnya hadir pada wilayah perairan pesisir yang relatif dangkal adalah Dugong dugong (Dugong/Duyung). Melalui laporan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Kabupaten Buru, insiden tertangkapnya Dugong oleh nelayan, serta penemuan dan pengamatan mereka dalam kegiatan di lingkungan perairan pesisir, diketahui Dugong hadir di beberapa bagian wilayah perairan pesisir Kabupaten Buru. Hasil survei menunjukan, Dugong hadir di wilayah Kabupaten Buru Selatan mulai dari perairan pesisir sekitar Namrole, Leksula hingga Mefa, kemudian perairan pesisir Fogi hingga Pasir Putih.

Sementara untuk wilayah ekologis Buru Utara Timur, jenis mamalia laut ini ditemukan di perairan Teluk Kayeli. Kehadiran Dugong yang terbatas pada beberapa bagian perairan pesisir Kabupaten Buru ini berkaitan sangat erat dengan kehadiran vegetasi lamun (padang lamun) yang merupakan sumber makanan utamanya. Informasi masyarakat mengindikasikan populasi dugong telah menurun karena diburu oleh manusia untuk memanfaatkan daging serta taringnya. Selain itu, diduga penurunan populasi dugong itu akibat intensitas penggunaan perairan pesisir untuk berbagai kepentingan yang cenderung meningkat.

Berkaitan dengan kenyataan tersebut maka Dugong menjadi salah satu jenis mamalia laut yang dilindungi undang-undang, dimana secara nasional mamalia laut ini dilindungi berdasarkan PP. No. 7 Tahun 1999 (Noerdjito dan Maryanto, 2001). Pada bagian lain, penurunan populasi dugong di wilayah perairan pesisir Kabupaten Buru berkaitan erat dengan kehadiran padang lamun sebagai makanan utamanya yang juga mengalami degradasi yang pesat akibat tekanan lingkungan. Oleh karena itu, penataan ruang wilayah pesisir dan laut, pengelolaan (konservasi dan rehabilitasi) padang lamun sebagai salah satu habitat utama wilayah pesisir Kabupaten Buru menjadi sangat penting.

D. Penyu

Berdasarkan hasil-hasil survei, pemanfaatan dan penampakan yang dilihat oleh masyarakat peisir, ternyata hanya empat jenis penyu yang menempati perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru adalah penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan penyu tempayang (Carretta careta). Penyu sisik lebih umum ditemukan atau menempati wilayah perairan pesisir dan laut Pulau Buru dan Pulau Ambalau. Berdasarkan pendekatan distribusi geografis dan habitat hiudup (Noerdjito dan Maryanto, 2001), dapat dikatakan jenis penyu sisik dan penyu hijau ini merupakan penghuni perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru.

Fakta lapangan menunjukan jenis penyu sisik ini menyebar dan menempati perairan pesisir dimana terdapat terumbu karang, dan penyu hijau pada areal padang lamun serta terumbu karang Buru Selatan dan Buru Utara Timur. Hasil pengamatan di lapangan serta spesimen yang ditangkap oleh nelayan menunjukan penyu sisik dan penyu hijau yang menempati wilayah perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru Selatan termasuk ukuran penyu belum dewasa hingga dewasa. Fakta tersebut memberi indikasi bahwa kehadiran penyu di wilayah perairan Kabupaten Buru untuk tujuan bertelur (nesting), serta untuk tujuan mencari makan dan berkembang menjadi dewasa sebelum menuju areal bertelur (nesting) di beberapa areal tereterial pesisir Pulau Buru dan pulau-pulau kecil sekitarnya, atau kemudian bermigrasi menuju kepulauan Lucipara (Kabupaten Seram Bagian Barat) yang merupakan habitat utama bagi jenis penyu tersebut, terutama penyu hijau.

Ternyata penyu belimbing berukuran sangat menggunakan bagian teresterial pesisir sekitar lokasi Wainibe (Buru Utra Timur) untuk bertelur (nesting). Keempat jenis penyu yang menempati perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru ini merupakan jenis reptilia laut yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 (Noerdjito dan Maryanto, 2001), karena populasinya di alam menurun drastis akibat diburu oleh manusia sebagai bahan konsumsi dan pemanfaatan kulitnya pada berbagai kegiatan kerajinan. Pada bagian lain, frekwensi kehadiran penyu di wilayah perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru telah berkurang seiring dengan menurunnya areal dan kualitas terumbu karang akibat tekanan lingkungan dan pemanfaatan.

Uraian di atas memberi petunjuk bahwa upaya perlindungan terhadap penyu tersebut menjadi penting. Upaya dimaksud dapat dilakukan melalui penataan ruang wilayah pesisir dan laut Kabupaten Buru serta konservasi dan rehabilitasi terumbu karang, padang lamun dan lahan teresterial pesisir yang merupakan habitat hidup serta reproduksi dari jenis-jenis penyu tersebut. e. Ular Laut
Jenis ular laut yang ditemukan menempati perairan pesisir dan laut Kabupaten Buru (Pulau Buru dan P. Ambalau) sebanyak 8 spesies.

Kedelapan spesies ular laut tersebut tergolong dalam dua kelompok utama berdasarkan habitat hidupnya yaitu ular laut penghuni terumbu karang (Allen dan Steen, 2002) dan penghuni perairan di luat ekosistem terumbu karang. Jenis-jenis ular laut penghuni ekosistem terumbu karang P. Buru dan P. Ambalau adalah Laticauda colubrina,

Laticauda semifasciata, Aipysurus laevis, Astoria stokesii dan Enhydrina schistosa. Sementara jenis ular laut yang ditemukan di luar perairan terumbu karang yaitu Hydrophis fasciatus, Hydrophis sp., dan Pelamis platurus. Jenis-jenis ular laut penghuni ekosistem terumbu karang itu tergolong sangat berbisa, dan sangat sensitif pada waktu musim kawin yang umumnya terjadi pada akhir musim tumur dan selama musim pancaroba antara musim timur dan musim barat. Dengan demikian kehadiran dan populasi dari kelima jenis ular laut ini penghuni terumbu karang itu sangat menonjol pada periode musim tersebut di atas.

F. Buaya

Selain penyu dan ular laut, wilayah pesisir Kabupaten Buru Selatan memiliki salah satu jenis reptilia (Monk, et.al., 1997) yaitu Crocodylus porosus (buaya). Jenis buaya ini dikelompokan sebagai buaya air asin (saltwater). Data dan informasi dari nelayan maupun masyarakat menunjukan bahwa jenis buaya ini hidup pada lingkungan perairan muara aungai Wai Tina dan sungai-sungai kecil lainnya.

G. Aves (Burung)

Beberapa bagian lahan teresterial pesisir P. Buru dan pulau-pulau kecil sekitarnya yang bersubstrat relatif berpasir dengan vegetasi tipe semak selain menjadi habitat yang ideal bagi penyu untuk bertelur, juga nerupakan habitat hidup yang penting bagi burung Maleo. Berdasarkan peta distribusi burung maleo (famili Megapodidae) yang dikemukakan Monk, et.al. (1997), disertai pengamatan lapangan dan informasi dari masyarakat maka jenis burung maleo yang terdapat di wilayah pesisir Kabupaten Buru adalah Megapodus fonstenii buruensis, Megapodus fonstenii fonstenii, dan Eulipoa wallacei yang sebarannya tumpang tindih dengan kedua spesies Megapodus tersebut.

Areal sebaran dari ketiga spesies burung maleo itu adalah pesisir wilayah Buru Selatan, Buru Selatan Timur, Buru Utara, Pulau Ambalau, serta pulau-pulau kecil sekitar P. Buru, khusunya wilayah ekologis Buru Selatan. Burung maleo memiliki nilai penting bagi masyarakat Maluku, termasuk Kabupaten Buru karena selain telurnya berukuran besar, juga bernilai gizi tinggi sehingga menjadi bahan makanan penting bagi masyarakat. Akibat tekanan pemanfataan telur tersebut, maka populasi burung maleo mengalami degradasi akibat kegagalan natalitasnya. Kondisi faktual ini menyebabkan burung maleo termasuk satwa yang telah dilindungan melalui beberapa peraturan perundang-undang yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (Noerdjito dan Maryanto, 2001).

Melalui uraian di atas, maka burung maleo beserta habitat hidupnya di Kabupaten Buru Selatan perlu mendapat perhatian perlindungan melalui upaya dan program konservasi. Dengan demikian penataan ruang pesisir menjadi penting, yang akan diikuti dengan arahan pengelolaan, termasuk konservasi habitat dan satwa burung maleo yang dilindungi tersebut.

Last Updated on Tuesday, 01 May 2012 02:24
 

Link Website

BPMD Facebook

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday226
mod_vvisit_counterYesterday669
mod_vvisit_counterThis week3997
mod_vvisit_counterThis month17773
mod_vvisit_counterAll851422