Dibalik Kemegahan Benteng Amsterdam
Written by Administrator   
Sunday, 04 March 2012 17:15

BENTENG ini terletak di Desa Hila Kaitetu, Kecamatan Leihitu, sekitar 42 Km dari kota Ambon. Benteng ini dibangun pada tanggal 26 Juli 1569 oleh Portugis yang dulu benteng ini diberi nama Castel Vanveree.

Benteng ini sangat berarti bagi Portugis masa itu, karena teluk Ambon merupakan jalur keluar masuk kapal-kapal dagang diperairan Maluku. Daerah ini dijadikan pusat perdagangan rempah-rempah oleh Portugis dan basis pertahanan menghadapi kapal-kapal asing yang datang menyerang. Setelah Portugis kalah oleh Belanda, benteng ini berubah nama menjadi Benteng Amsterdam.

Benteng Amsterdam dibangun oleh Belanda pada awal abad ke-17, ketika perdagangan rempah-rempah mulai dilaksanakan di Ambon. Benteng ini terletak tidak jauh dari Gereja Tua Hila. Benteng Amsterdam adalah bangunan kedua yang dibangun Belanda di Ambon, setelah Kasteel Van Verre. Benteng ini dibangun setelah Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) didirikan di Belanda oleh Heeren Zeventien.

Benteng Amsterdam merupakan bangunan tua yang sudah berusia ratusan tahun, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah penguasaan VOC di Ambon. Benteng ini terletak di tepi pantai yang sangat tenang dan indah. Benteng Amsterdam merupakan bangunan tua yang sudah berusia ratusan tahun, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah penguasaan VOC di Ambon. Benteng ini terletak di tepi pantai yang sangat tenang dan indah. Tapi pada booklet Ambon Island dari Kantor Pariwisata Propinsi Maluku, dikatakan bahwa benteng ini merupakan benteng kedua yang dibangun oleh Belanda, setelah benteng Kasteel Van Verre di dekat Seith hancur. Benteng Amsterdam didirikan pada masa perdagangan rempah-rempah di awal abad ke 17, setelah VOC Vereenigde Oost Indische Compagnie dibentuk oleh Heeren Zeventien di Belanda. G.E. Rumphius pernah tinggal di benteng ini, menulis buku-buku tentang flora dan fauna Ambon. Georg Everhard Rumphius adalah seorang naturalis dan ahli sejarah dari Jerman (1627 1702). Selain menulis tentang flora dan fauna Ambon, ia juga menulis tentang gempa dan tsunami yang melanda Maluku dalam bukunya yang berjudul Waerachtigh Verhael Van de Schrickelijcke Aerdbevinge. Gempa dan tsunami itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1674, mengakibatkan kerusakan parah desa-desa di pesisir utara Pulau Ambon dan bagian selatan Pulau Seram. Buku-buku karya G.E. Rumphius bisa kita lihat di Perpustakaan Rumphius yang dikelola oleh Andreas Petrus Cornelius Sol MSC di komplek Pastoran Paroki Santo Franciscus Xaverius, Ambon.

Memasuki benteng, di dekat pintu masuk kita akan menemui prasasti dengan lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Prasasti tersebut bertuliskan : BENTENG AMSTERDAM. Mulai Dibangun Oleh : GERARD DEMMER Pada Tahun 1642.

Kemudian diperluas dan diperbesar oleh : ARNOLD De VLAMING Van OUDS HOORN Pada Tahun 1649 hingga Tahun 1656. Dipugar Kembali Oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kantor Wilayah Propinsi Maluku, mulai bulan Juli Tahun 1991 hingga bulan Maret Tahun 1994. Ambon, 16 Pebruari 1997, Kepala Bidang Permuseuman”
Jika kita memuliakan peninggalan bersejarah seperti benteng ini tentu kita dapat menggali lebih dalam perjalanan bangsa dulu saat-saat berebut kekuasaan antara rakyat pribumi dan kaum bangsawan yang sengaja ingin merebut kekayaan alam Indonesia.
Sumber : Ambon Ekspress

Dibalik Kemegahan Benteng Amsterdam
 

Artikel Terkait

Link Website

BPMD Facebook

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday243
mod_vvisit_counterYesterday388
mod_vvisit_counterThis week1083
mod_vvisit_counterThis month11624
mod_vvisit_counterAll868561